”(ingin/akan) ku sempurnakan (sebagian yang lain) dari ibadahku”
Bismillahirrohmaanirrohiim… Telah kusampaikan sebab gundah hati ini padanya, Aku katakan padanya, “aku mencintai dia, Aku mencintaimu karena Allah”, dan aku katakan juga “aku ingin menikah denganmu”.
(”ya Allah, dia adalah wanita yang Engkau cintai karena akhlak dan aqidahnya, wanita yang ingin selalu dekat dengan-Mu ya Allah, wanita yang selalu menjaga dan memelihara dirinya dari keburukan dunia (insyaAllah)) Tidakkah cukup hal itu ku jadikan sebab mengapa aku ingin menikahinya ? (mengikuti firmanMu ”tidaklah kau menikah dengan wanita karena 4 hal,…………dan pilihlah karena Aqidahnya maka engkau akan selamat)”
Kucoba singkirkan jauh-jauh rasa bimbang, ”mampukah saya menikahinya?” kebimbangan itu terus berbisik dalam gelisahku. ”Kuteguhkan hati ini dengan mendekat kepada-Mu ya Rabb, ku tundukkan kepalaku, ku tengadahkan tanganku dan memohon bimbingan dari-Mu wahai Pemilik Seru Sekalian Alam”.
Walaupun demikian, gelisahku masih saja mengusikku. Nalar rasionalku berkata ”kamu tidak punya biaya untuk memberanikan diri meminangnya bukan?, banyak yang harus terbiayai..” belum lagi masalah keluargamu yang menghendaki kamu menyelesaikan studi- terkait ”kontrak-beasiswanya”?
Ya Allah… aku tidak tahu harus memulai dari mana… Aku ingin menikah ya Allah…sungguh (insyaAllah) aku benar-benar ingin menikahinya. aku ingin membatasi diriku dengan menikah, aku ingin hidupku lebih berarti dengan hadirnya seseorang (yang Engkau cintai ya Allah) disisiku. Aku ingin mengikuti Sunnah Rasulku karena aku umatnya.
Aku juga ingin menyelesaikan studiku ya Allah….
agar menjadi tauladan bagi anak-anakku kelak.
Aku percaya bahwa Allah SWT akan membimbingku..
Aku percaya bahwa Allah SWT sedang mengajariku..
Aku percaya bahwa Allah SWT akan menunjukkan jalanNya.
"Bukankah Allah SWT menjamin akan memampukan umatnya jika nanti menikah!"
(Amiin..yaa robbal Aa’lamiin
malang,18 juli 08, 23.20, ditulis dengan (pendekatan) sastra )


Sudah menjadi kebiasaan buat saya mudik kekampung halaman. Melihat hamparan sawah nan hijau, bersendagurau dengan kawan lama menertawakan kebodohan masa lalu, riuh canda tawa dan tangis adik2ku tersayang dan masih banyak segudang cerita masa lalu yang tetap terekan dalam ubun2 kepalaku. Mudik kali ini terasa spesial. Pertama ini mudik yang pertamakalinya pake spedamotor (malang-mataram), ndirian lagi. Kedua, waktunya hampir mepet lebaran. (soale jarang2 mudik pas mepet2 lebaran, biasanya 1 minggu / 2 minggu menjelang lebaran). ketiga, ini mudik pertama pasca kelulusan, kempat…kelima…(tpi tenang aja, ini mudik sya blum bawa cucu kok buat ibu..hee ).


