Sudah lama sebenarnya saya memendam rasa kepada seorang wanita, tapi saya tidak memiliki cukup keberanian untuk mengungkapkan isi hati ini padanya. Entah mengapa saya takut untuk mengutarakannya, ( kata kawan-kawan sih itu karena saya takut untuk ditolak, mungkin itu salah satu pemyebabnya tapi ada beberapa alasan lain ). Yang saya lakukan adalah memandanginya dari kejauhan, berbisik-bisik sendiri ( mengungkapkan kekagumanku padanya dalam hati ).

Pernah juga saya nyanyi-nanyi sendiri jika ada lirik lagu yang sama dengan gambaran isi hati saya pada saat itu. Untuk bisa berkenalan dengannya saja saya membutuhkan waktu berminggu-minggu dan beruntungnya saya, wanita itu sahabat dari kawan baik saya.

Mungkin saya tidak terlalu pandai merangkai kata-kata untuk saya ungkapkan dihadapannya sebagai bahan pembicaraan ( apalagi untaian kata cinta ). Setelah saya dapat berkenalan dengannya, rasanya hati ini berbunga-bunga seakan-akan saya akan menemukan sesuatu yang hilang dari jiwa saya. Saya memberanikan diri untuk datang kerumahnya. Benar saja, setelah beberapa potong kata terucap dari bibir saya untuk membuka pembicaraan, saya sudah kehabisan kata-kata. (semoga saja dia maklum ).

Pada dasarnya saya memang sedikit pendiam. Saya tidak terlalu suka untuk berbicara mengenai hal-hal yang menurut saya tidak perlu dibicarakan, tapi sangat berbeda jika saya mendiskusikan bahasan tertentu dengan kawan-kawan, dan.saya akan menjadi salah satu peserta diskusi yang sangat aktif.

Sewaktu SMA dulu, saya pun pernah merasakan hal yang sama. Tapi saya memberanikan diri mengatakan bahwa “saya suka padanya “ , setelah dipaksa oleh kawan-kawan dekat dan untungnya dia pun mempunyai perasaan yang sama, Itupun setelah 2 tahun mengenalnya.

Setelah saya pikir mungkin pada saat itu ( setelah yudisium : ) waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hati ini padanya. Saya datang kerumahnya ( membawa serta buku skripsi saya ) untuk dibaca dibagian lembar persembahan ( bahwa sebenarnya dia merupakan bagian dari terselesaikannya skripsi ini ), sambil saya katakan bahwa “ saya suka dia !” legalah hati ini ketika tiga potong kata itu keluar dari hati dan bibir saya.

Bagi saya, dia adalah gadis yang sempurna. Pendiam, keibuan dan parasnya yang sejuk. Saya belum tau banyak tentang dia, saya tidak tau apakah dia suka membuat puisi atau tidak, atau paling tidak bernyanyi-nanyi kecil, tapi saya tahu bahwa dia tipe wanita yang setia dan sabar, mungkin begitu juga sebaliknya, dia belum mengenal lelaki brengsek yang memujanya ini. Saya belajar untuk bisa menjadi temannya, sahabatnya…. ]

Hingga saat ini saya dan dia masih berkomunikasi ( walaupun sangat jarang ) karena keterbatasan waktu dan biaya yang saya miliki. Tapi sesekali waktu saya usahakan untuk menelponnya, minimal sms. Saat ini yang bisa saya perbuat adalah berusaha memenuhi kebutuhan hidup untuk belajar mandiri dan terus berdoa semoga Allah memberikan dia untuk saya…

Surabaya, 13 agustus 2006

bayusastra