"Membuat mesin berpikir layaknya manusia ?". Dapatkah ? , "tentu saja", jepang sudah mulai mengembangkan sejak beberapa dekade yang lalu. "hasilnya?"…yah kita tunggu saja. yang jelas, imajinasi Steven Spilberg dalam filmnya artificial intelligent sudah akan-benar-benar terwujud. Gilaa!!. (apanya yg gila , yuu..)…yaa …itu gila "otaknya". Mau dikemanain manusia klo ntar tuh robot dibuat massal? " ya…g kemana-mana…emang bisa kemana ?" (are you ready!!)
Individual Social Responsibility
Sebenernya istilah yang saya gunakan pada judul tulisan ini tidak lepas dari istilah CSR (corporate social responsibilty). Kalau dalam lingkup yang lebih sempit , human (kita) sebagai mahluk sosial yang sangat tergantung dengan manusia lainnya. Sebetulnya pun, tanpa ada istilah (judul) diatas, kehidupan bermasyarakat yang saling tolong-menolong (bisa saya sebut gotong royong?) telah ada. Setiap individu menjadi jejaring pengaman bagi lingkungan sekitarnya (teman/tetangga/…). dan jika itu lebih sedikit di manage, bukan tidak mungkin dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan mendasar dalam masyarakat kita ?.

Jika ada pertanyaan mengenai olah raga yang paling populer didunia ini, maka sepakbola adalah jawabannya. Tidak ada orang yg tidak suka sepakbola. Tua, muda, pria ataupun wanita, semuanya suka sepakbola. Sebut saja MU, Juventus, Elbarca , arema dan masih banyak lagi klub-klub yg mampu menghipnotis para penggila bola dan supporternya.
Dalam praktiknya, kejuaraaan sepakbola ternyata menelan biaya yang tidak sedikit. Kesuksesan suatu klub menjuarai kejuaran sangat tergantung dari yang namanya "anggaran pembinaan". Sepengetahuaan saya, anggaran untuk sepakbola ini diambilkan dari APBD, dan nilainya untuk masing-masing daerah juga bervariasi. Jika ternyata anggaran sepakbola lebih besar ketimbang anggaran kesehatan dan anggaran pendidikan apa yg akan terjadi?. mungkin saya tidak bisa menafikan bahwasanya adanya hubungan antara anggaran untuk sepakbola dengan anggaran kesahatan dan pendidikan dimana dibeberapa daerah yg mengalokasikan anggaran sepakbolanya "gila-gilaan" menjadi penyebab terjadinya beberapa kasus seperti busung lapar, kemiskinan kota, kualitas pendidikan menurun ?? memang terlalu dini untuk dibuat sebuah kesimpulan. tapi cobalah kita pikirkan lagi ?
Sepakbola hanyalah olahraga. tidak ada sebuah tendensi yang terselubung dibelakangnya. Sepakbola tidak mengakomodir sebuat kepentingan yang sifatnya massif. karena memang hanya sepakbola yang mempersatukan kita.
saya berpendapat bahwa, sudah waktunya kita belajar untuk membuat manajemen sepakbola yag lebih profesional seperti beberapa klub lokal saat ini. dengan tidak memberatkan APBD, semangat olahraga akan terus membara !!!
i love football………………………..
giriwahyu

