romanticJune 19, 2008 2:13 pm

Bismillahirrohmaanirrohiim… Telah kusampaikan sebab gundah hati ini padanya, Aku katakan padanya, “aku mencintai dia, Aku mencintaimu karena Allah”, dan aku katakan juga “aku ingin menikah denganmu”.

(”ya Allah, dia adalah wanita yang Engkau cintai karena akhlak dan aqidahnya, wanita yang ingin selalu dekat dengan-Mu ya Allah, wanita yang selalu menjaga dan memelihara dirinya dari keburukan dunia (insyaAllah)) Tidakkah cukup hal itu ku jadikan sebab mengapa aku ingin menikahinya ? (mengikuti firmanMu ”tidaklah kau menikah dengan wanita karena 4 hal,…………dan pilihlah karena Aqidahnya maka engkau akan selamat)”

Kucoba singkirkan jauh-jauh rasa bimbang, ”mampukah saya menikahinya?” kebimbangan itu terus berbisik dalam gelisahku. ”Kuteguhkan hati ini dengan mendekat kepada-Mu ya Rabb, ku tundukkan kepalaku, ku tengadahkan tanganku dan memohon bimbingan dari-Mu wahai Pemilik Seru Sekalian Alam”.

Walaupun demikian, gelisahku masih saja mengusikku. Nalar rasionalku berkata ”kamu tidak punya biaya untuk memberanikan diri meminangnya bukan?, banyak yang harus terbiayai..” belum lagi masalah keluargamu yang menghendaki kamu menyelesaikan studi- terkait ”kontrak-beasiswanya”?

Ya Allah… aku tidak tahu harus memulai dari mana… Aku ingin menikah ya Allah…sungguh (insyaAllah) aku benar-benar ingin menikahinya. aku ingin membatasi diriku dengan menikah, aku ingin hidupku lebih berarti dengan hadirnya seseorang (yang Engkau cintai ya Allah) disisiku. Aku ingin mengikuti Sunnah Rasulku karena aku umatnya.

Aku juga ingin menyelesaikan studiku ya Allah….
agar menjadi tauladan bagi anak-anakku kelak.

Aku percaya bahwa Allah SWT akan membimbingku..
Aku percaya bahwa Allah SWT sedang mengajariku..
Aku percaya bahwa Allah SWT akan menunjukkan jalanNya.
"Bukankah Allah SWT menjamin akan memampukan umatnya jika nanti menikah!"

(Amiin..yaa robbal Aa’lamiin

malang,18 juli 08, 23.20,  ditulis dengan (pendekatan) sastra )

romanticMay 27, 2008 11:06 am

…………………. 

Tertulis sebuah nama dalam diary mas Ariesta “Hening, Sosok muslimah yang
menyentuhku qolbuku, aku ingin menjadikannya sebagai istriku” Ternyata mba
hening begitu berpengaruh dalam kehidupan mas ariesta, dan ketika kembali
membaca diari mas ariesta “aku Ingin menikah, dengan hening, tapi belum ada
biaya, dan bagaimana dengan Sari belum lulus kuliah, aku harus menanggung
biaya sari, dan aku harus belajar menjadi kepala rumah tangga. “Ya Allah
yang maha pengasih lagi maha penyayang bantu lah aku berikan aku jalan atas
cobaan yang terindah yang sedang aku hadapi”

……………… 

(dicuplik tulisan dari cerpen (lanjutannya disini) http://darkprince.blog2.plasa.com/category/cerpen/)

Umum, romanticAugust 13, 2006 12:57 pm

Sudah lama sebenarnya saya memendam rasa kepada seorang wanita, tapi saya tidak memiliki cukup keberanian untuk mengungkapkan isi hati ini padanya. Entah mengapa saya takut untuk mengutarakannya, ( kata kawan-kawan sih itu karena saya takut untuk ditolak, mungkin itu salah satu pemyebabnya tapi ada beberapa alasan lain ). Yang saya lakukan adalah memandanginya dari kejauhan, berbisik-bisik sendiri ( mengungkapkan kekagumanku padanya dalam hati ).

Pernah juga saya nyanyi-nanyi sendiri jika ada lirik lagu yang sama dengan gambaran isi hati saya pada saat itu. Untuk bisa berkenalan dengannya saja saya membutuhkan waktu berminggu-minggu dan beruntungnya saya, wanita itu sahabat dari kawan baik saya.

Mungkin saya tidak terlalu pandai merangkai kata-kata untuk saya ungkapkan dihadapannya sebagai bahan pembicaraan ( apalagi untaian kata cinta ). Setelah saya dapat berkenalan dengannya, rasanya hati ini berbunga-bunga seakan-akan saya akan menemukan sesuatu yang hilang dari jiwa saya. Saya memberanikan diri untuk datang kerumahnya. Benar saja, setelah beberapa potong kata terucap dari bibir saya untuk membuka pembicaraan, saya sudah kehabisan kata-kata. (semoga saja dia maklum ).

Pada dasarnya saya memang sedikit pendiam. Saya tidak terlalu suka untuk berbicara mengenai hal-hal yang menurut saya tidak perlu dibicarakan, tapi sangat berbeda jika saya mendiskusikan bahasan tertentu dengan kawan-kawan, dan.saya akan menjadi salah satu peserta diskusi yang sangat aktif.

Sewaktu SMA dulu, saya pun pernah merasakan hal yang sama. Tapi saya memberanikan diri mengatakan bahwa “saya suka padanya “ , setelah dipaksa oleh kawan-kawan dekat dan untungnya dia pun mempunyai perasaan yang sama, Itupun setelah 2 tahun mengenalnya.

Setelah saya pikir mungkin pada saat itu ( setelah yudisium : ) waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hati ini padanya. Saya datang kerumahnya ( membawa serta buku skripsi saya ) untuk dibaca dibagian lembar persembahan ( bahwa sebenarnya dia merupakan bagian dari terselesaikannya skripsi ini ), sambil saya katakan bahwa “ saya suka dia !” legalah hati ini ketika tiga potong kata itu keluar dari hati dan bibir saya.

Bagi saya, dia adalah gadis yang sempurna. Pendiam, keibuan dan parasnya yang sejuk. Saya belum tau banyak tentang dia, saya tidak tau apakah dia suka membuat puisi atau tidak, atau paling tidak bernyanyi-nanyi kecil, tapi saya tahu bahwa dia tipe wanita yang setia dan sabar, mungkin begitu juga sebaliknya, dia belum mengenal lelaki brengsek yang memujanya ini. Saya belajar untuk bisa menjadi temannya, sahabatnya…. ]

Hingga saat ini saya dan dia masih berkomunikasi ( walaupun sangat jarang ) karena keterbatasan waktu dan biaya yang saya miliki. Tapi sesekali waktu saya usahakan untuk menelponnya, minimal sms. Saat ini yang bisa saya perbuat adalah berusaha memenuhi kebutuhan hidup untuk belajar mandiri dan terus berdoa semoga Allah memberikan dia untuk saya…

Surabaya, 13 agustus 2006

bayusastra

Umum, romanticJune 15, 2006 11:58 am

PErnahkah anda jatuh cinta?
Apa yang menjadi sebab sehingga kita memiliki perasaan lebih terhadap orang yg kita cintai ?
cinta dapat datang dan juga pergi seiiring berjalannya waktu bukan?
apa yang membuat kita memperjuangkan cinta itu? sadarkah kita jika suatu saat ternyata
apa yg kita harapkan dari cinta tidak seperti yg kita lamunkan?
alkisah , gibran dan sheakspear pun tidak berdaya untuk bisa memenangkan cinta meraka.
akan tetapi kenapa gibran tidak bisa menjadi seperti "the beast" yang berhasil memenangkan
cintanya untuk mendapatkan "beauty" ?
apakah mungkin karena ‘bibit, bobot dan bebet ‘ gibran yg tidak meyakinkan sehingga
gibran akhirnya harus menyerah kepada keadaan ? ( ah…massa iya…)
sehingga utk mengobati kekecewaannya
gibran harus menulis berpuluh-puluh buku mengenai cinta?
Yakinkah kita orang yang kita cintai saat ini adalah ‘takdir’ kita kelak?
kenapa harus gadis ini ? diluar masih banyak gadis yg sama baik dan cantiknya?
siapa namanya gadis itu?
kenapa harus dia?